Tamara,
Cinta pertamaku,
Yang aku kenali dulu,
Yang selalu menjadi gula dan rencah enak hidupku,
Yang tak bisa aku dekati dan dengari,
Tapi mampu aku ingati,
Kita memeluk erat didalam dunia kita,
Berbicara sayang menerusi mel-mel cinta,
Ingin sekali aku memilikimu oh Tamara.
Jadikan mu teman perjuanganku hingga mati.
Namun sayang,
Tamara dihimpit di kota kelahirannya,
Sedang melanda tengkujuh hujan bom dan mortar,
Bala tentera saudara ibrahim memenuhi inci-inci kota,
Mengakui perwarisan bangsa di setiap persegi kota,
Wahana kekerasan yang digunakan untuk mengungguli bangsa,
Sanak-saudara Tamara dibunuh dan diperkosa,
Jiran rantau sekeliling tiada berbuat apa-apa,
Mereka bisu dan buta-tuli,
Menutup sempadan sekeliling,
Bahkan hanya merelakan saudara seagama dihinjak-sehinjaknya dek rejim durjana.
Tamara,
Apa khabarmu disana,
Aku disini merinduimu,
Aku menanti beritamu penuh gundah,
Tak putus mendoakanmu agar senantiasa sejahtera,
Aku menginginkanmu disini,
Disisiku,
Di negaraku yang indah permai,
Dibawah lindungan tirai demokrasi aman,
Tenteram dan harmoni untuk kita duduki,
Sayang,
Ingin sekali aku menatap dirimu,
Wajah putih yang murah dengan senyuman memikatmu,
Rambut lurus harum perang yang meninggalkan bau indah dihidungku,
Tubuh genit yang selama ini aku idamkan,
Merangkulmu dengan penuh belai dan mesra,
Menyusun-karang bicara cinta
Dan cinta yang disemai telah kita perjuangkan,
Sentiasa aku penuh nanti akan utusan darimu,
Khabarkanlah suatu berita dari Gaza,
Berita keamanan dan keindahan,
Buat kau,aku dan kita berdua.
Buat pujaan hatiku Tamara di bumi Gaza…
No comments :
Post a Comment